Minggu, Januari 11, 2009

Semua Angka Pun ya Makna

Pernahkah anda memperhatikan Internasional Standar Book Number (ISBN) buku yang anda baca? Kalau anda tidak bekerja di perpustakaan, penerbit, atau tidak pernah berurusan dengan ISBN, deretan nomor itu seperti tak bermakna. Padahal bagi penerbit nomor ini sama pentingannya dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Biasanya nomor ini, ditulis kecil di tempat yang jarang dilihat pembaca. Dibagian bawah sampul belakang atau dibalik halaman judul, misalnya. Setiap buku di dunia memiliki nomor ISBN berbeda.
Meski sistem penomoran buku sudah setua sejarah buku, namun sistem penomoran Internasional belum berusia setengah abad. Ketika jumlah buku belum begitu banyak, urusan penomoran buku belum begitu rumit. Perpustakaan Alexandria, mesir yang dibangun Ptolemeus II Philadelpius (302-246 SM) dan terbesar dalam masanya pun koleksinya masih dalam hitungan ratusan ribu. Pada masa itu buku-buku diperpustakaan dinomori dengan nomor urut sederhana. Tujuannya hanya sebatas untuk mempermudah bikin katalog. Antar perpustakaan pun beda aturan.
Masalah mulai muncul di abad ke-20 ketika miliaran buku dicetak. perdagangan buku lintas negara pun semakin marak, sejak saat itulah, sistem penomoran buku secara internasional mulai di pikirkan.
Cikal baka ISBN bermula dari gagasan W.H.Smith, pemilik toko buku terbesar di Inggris tahun 1965. Waktu itu iya berencana memindahkan toko bukunya kegedung baru yang di lengkapi sistem komputerisasi.
Dengan bantuan konsultan ahli dan Komite Distribusi dan Metode dari Asosiasi Distribusi penerbit Inggris, Smith memperkenalkan sistem Standar Book Numbering tahun 1966. Setahun berikutnya, sistem yang iya gagas diterapkan di Inggris.
Pada tahun yang sama, Internasional Organization Of Standardization (ISO) mulai membahas kemungkinan mengadopsi sistem ini unutk pemakaian Internasional. Tahun 1970, ISO pun menyetujui sistem ISBN sebagai standar yang dikenal dengan ISO 2108. Hingga Sekarang sekitar 150 negara telah memakai sistem ini, termasuk Indonesia. Masing-masing negara memiliki badan yang berhak mengeluarkan ISBN. Di Indonesia, otoritas ini berada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)
ISBN terdiri atas sepuluh digit angka. Bagian pertama menunjukan negara asal penerbit (untuk Indonesia 979). Bagian berikutnya menunjukan identitas penerbit. Misalnya, Gramedia Pustaka Utama (GPU) 655, sehingga ISBN-nya 979-655-xxx-x. Sementara buku terbitan Mizan ber ISBN 979-433-xxx-x.
Bagian Ketiga menunjukan urutan judul buku di dalam penerbit tersebut. Sedangkan angka terakhir merupakan angka pemeriksa(check digit). Angka ini diperoleh melalui rumus tertentu berdasarkan angka-angka sebelumnya.
Meski letaknya paling ujung, angka pemeriksa memiliki fungsi penting. Kita tahu, salah ketik sering terjadi dalam menulis angka. Saat orang memasukan sembilan angka ISBN, angka pemeriksa akan muncul di tempat lain dan dicocokan dengan digit ke-10 ini. Jika tidak sama, berarti ada angka yang salah ketik. Pada buku-buku penting dan berumur panjang, ISBN biasanya dikawin kan dengan Bar Code sistem EAN (european Article Number)
Dengan semakin kompleksnya urusan perbukuan, suatu saat ISBN bisa saja mengalami revisi. Saat ini ISO bahkan telah berencana mengubah ISBN dari sepuluh digit menjadi tiga belas digit. Meski nanti ISBN berubah formula, ada satuhal yang tak berubah: berapapun digitnya, tiap angka pasti punya makna.

intisari bulan september 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar